tadi sore, sepulang saya dari bekerja, saya melewati jalan sabang. tidak ada istimewa selain pernah kecopetan di sana. tapi sore itu, ada yg menampar saya.
ketika lewat restoran sate tulunganggung [jangan saya suruh deskripsikan yg mana, tapi deket lampu merah perempatan sabang sepertinya cukup] ada ibu dengan 3 orang anak. ibunya dekil, anaknya tak kalah dekil. salah satu anaknya entah kenapa ngambek dan nangis, lalu ditinggalkannya oleh si ibu dan kedua kakak2nya. si anak jauh tertinggal. saya bingung di tengah mereka. berjalan begitu saja, atau menunggu si anak lewat atau memanggil ibu itu karena anaknya tertinggal. yang saya putuskan adalah: menunggu.
anak itu dengan tinggi badan lebih kecil dari anak saya yg berumur 3 taun, tetap pada tempatnya dan menangis. rupanya ia ingin jus. sederhana, sementara si ibu berpendapat nasi lebih kenyang daripada sekedar jus. Duh, dilema, kalau saya memberi jus, nanti mereka tumon.. nanti semua minta, atau ini modus operandi baru [hidup di jakarta penuh kecurigaan] tapi permintaan jus si anak seperti permintaan anak saya. akhirnya saya nekat, saya belikan dia jus alpukat sesuai keinginannya sementara ibunya entah kemana. dia membelakkan mata sambil bilang: "maunya dibeliin emak!" saya jawab: "sudah, ini ibu belikan, gag papa, emak pasti gag papa..nih.. haus kan?" dia menggelengkan kepalanya.. "nanti emak marah, kami bukan pengemis, ibu." ,
saya terdiam, saya pegang kepalanya untuk mengelus kepalanya. Astaga! panas sekali. saya tanya apakah dia sakit, matanya berkaca2, ia lalu lari sambil menangis memanggil emaknya. Jus alpukat itu sia-sia di tangan saya.
langkah saya lalu menuju tempat yang saya tuju dengan hati penuh penyesalan atas apa yang saya duga2. tamparan kedua adalah, ketika saya menunggu di tempat cuci cetak di jalan sabang.
seorang bapak dengan tumpukan buku2 di tangannya. saya takut, itu buku2 palsu, jadi saya tidak pernah membeli dari mereka. bapak tua itu, berkulit hitam, rambut putih, berpakaian lusuh. dia menawarkan buku2 itu dengan senyumnya, tapi sekali lagi saya berpikiran, buku2 itu palsu. saya menolaknya.
ia menarik nafas panjang dan senyumnya sirna, ia bergumam "masya allah.. belum laku satupun". plak, tamparan itu sakiiiit sekali di pipi saya, ketika dia keluar dari toko..saya panggil dia: "eh pak, ada novelnya andrea yaa? coba saya liat. "
dia kembali ke arah saya dengan senyum merekah.
akhirnya, harga tiga buah buku dan segelas jus alpukat untuk si Bapak.
"terima kasih ibu, jus ini saya simpan untuk cucu saya yang sedang ingin jus. dia sedang sakit panas, semoga jusnya buat dia turun panasnya. ibu, terima kasih. assalamualaikum."
saya tidak bisa menjawab karena bibir saya kelu.
saya masuk ke toko itu lagi, sampai lima menit kemudian kalau suami sudah di sarinah. ketika menyebrang, tampak bapak buku itu menggendong anak yang saya jumpai tadi sedang bersender di bahu si bapak lunglai menyedot jus alpukat. kedua kakaknya dan perempuan dipanggil emak membawa buku2 bapak tadi. .
saya menangis.. mata saya mengikuti mereka sampai mereka menghilang..
[jl.sabang, nov.3, 2009, 27 hari menjelang pengunduran diri]